Senin, 09 April 2012

Sejarah Peradaban Dan Kebudayaan Islam Di Mesir Era-Modern


Sejarah Peradaban Dan Kebudayaan Islam Di Mesir Era-Modern
Abtraksi
            Dalam sejarah dunia yang panjang, tidak banyak negara-negara yang berhasil membentuk diri menjadi negara kuat yang menguasai wilayah yang luas (minimal pada 10 bangsa / etnis yang berbeda), pada masa yang cukup lama (minimal 10 generasi atau sekitar 300 tahun) serta meninggalkan jejak peradaban yang signifikan, yang terasa sampai saat ini.
            Hingga abad-15 M, mungkin hanya tiga negara seperti itu, yaitu Imperium Romanum (Romawi) yang berkuasa dari kira-kira Abad ke-7 SM hingga abad 15 M di seluruh Eropa dan Afrika Utara, lalu imperium Persia dari masa Cyrus (abad 10 SM) hingga abad 8 M dan membentang di wilayah Irak sekarang hingga sebagian India dan Asia Tengah, dan Imperium Islam (abad 8 M hingga 17 M) dan membentang dari Maroko di tepi Atlantik hingga Merauke di Nusantara.[1]
            Adapun unsur-unsur yang dominan dalam pembentukan kebudayaan dan peradaban adalah, The Man of The Pen dan The Man of The Sword. Unsur the man of the pen adalah birokrasi sipil, para intelektual dan ulama’. Sedangkan unsur the man of the sword terdiri dari  kaum militer dengan segala angkatan pertahanannya. Kerjasama antara kedua unsur dominan tersebut akan berpotensi dalam menumbuhkan kebudayaan dan peradaban baru, serta berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan di segala bidang dengan aneka ragam cabangnya.
1.        Pendahuluan       
           
Sebelum memahami sejarah peradaban Islam yang berkembang di Mesir pada Era Modern, kita dituntut untuk menjelaskan terlebih dahulu apa yang kita maksud dengan peradaban Islam itu sendiri. Agar makna yang ditujukan dapat dipahami dengan baik. Maka dari itu “sejarah peradaban dan kebudayaan Islam” yang saya maksud di sini adalah : cara untuk melihat dan memahami kembali tentang kejayaan dan kehidupan islami yang mana merupakan kiblat dari segala sesuatu, mulai dari keilmuan, politik, ekonomi, ketatanegaraan, dan juga dalam bidang sosial. 
Realitas
         
Umat Islam kini menanti hadirnya kembali peradaban Islam sebagaimana yang pernah terjadi pada masa al-Khulafa’ al-Rasyidah sampai masa khilafah Usmaniyah. Dengan kelebihannya dan kekurangan pada saat itu, peradaban Islam berjaya selama kurang lebih 10 abad dari rentang 19 pemerintahan Islam.
Tapi semenjak imperalisme Barat mengguras kaum muslim, peradaban Islam seolah sirna dan tanpa jejak. Barat yang sejatinya dibesarkan dan dipengaruhi oleh peradaban Islam juga menafikan semua itu. Implikasinya umat Islam menjadi terjajah dari berbagai aspek kehidupan.[2]      
            Salah-satu wilayah yang pernah menjadi pusat peradaban Islam sekaligus korban imperialisme adalah adalah kawasan Lembah Nil bagian bawah yang disebut dengan al-Misr (Mesir Modern) yang mempunyai sejarah peradaban dan kebudayaan yang sangat panjang baik itu pra/masa-Islam. Hal ini dapat dijelaskan denngan jejak-jekak peninggalam sejarah maupun pendalaman di bidang sejarah itu sendiri.         
            Kajian tentang peradaban Islam merupakan kajian yang sangat luas, maka dari itu pembahasan kita tentang peradaban Islam pada makalah ini perlu kita batasi (masa dan wilayah) mengingat, pembagian topik-topik yang telah ditentukan sebelumnya. maka wilayah yang akan di bahas adalah Mesir dengan membatasi bahasan pada Era Modern saja.     
            Bagaimana terjadinya proses islamisasi di Mesir? Bagaimana sejarah peradaban Islam di Mesir Era Modern? Apa saja capaian-capainya? Adakah yang keliru dari umat Islam dalam merekontruksi sejarahnya? Seterusnya akan kita lanjutkan dalam pembahasan.     

2.      Pembahasan
        
Ketika kita akan memulai memahami peradaban dan kebudayaan Mesir Era Modern maka kita tidak dapat terlepas dari sejarah masuknya Islam di kawasan tersebut, dan kondisi sosio-kultural setempat. Untuk itu kita akan membahas sedikit tentang sejarah masuknya Islam di kawasan tersebut/rentetan sejarah Mesir Islam, dan proses peletakan pondasi peradaban Islam di kawasan tersebut.    
·     Mesir Pra-Modern
1)          Proses islamisasi        
Mesir (Afrika Utara) Pra-Islam                 
                  
Kehidupan sosial masa lalu Afrika Utara adalah sebuah kehidupan masyarakat pedesaan yang bersifat kesukuan, nomad (berpindah-pindah) dan patriarkhi. Ketika daerah ini berada di bawah kekuasaan Romawi, tak pelak pengaruhnya sangat besar bagi masyarakat Barbar. Umumnya mereka dipengaruhi oleh elit kota yang mengadopsi bahasa, gagasan , dan adat istiadat para penguasa. Tetapi elit-elit ini tidak banyak. Selanjutnya, setelah orang-orang Vandal (Barbar) memperoleh kemenangan, pengaruh Romawi di sebagian besar Afrika mulai berhenti, kecuali pengaruh ekonomi, dan peradaban Barbar lama secara bertahap muncul kembali. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada abad 1 H/7 M kehidupan sosial Afrika Utara lebih merupakan kehidupan masyarakat Barbar yang bersifat kesukuan, nomad dan patriarkhi.          
Kedatangan Islam di Mesir (Afrika Utara), Proses Islamisasi dan Peletakan Fondasi Peradaban dan Kebudayaan Islam          
                  
Mesir adalah salah-satu kawasan yang berada di Afrika Utara.  Afrika Utara merupakan daerah yang sangat penting bagi penyebaran agama Islam di daratan Eropa. Ia menjadi pintu gerbang masuknya Islam ke wilayah yang selama berabad-abad berada di bawah kekuasaan Kristen sekaligus “benteng pertahanan” Islam untuk wilayah tersebut.     
                   Islam masuk wilayah Afrika Utara pada saat daerah itu berada di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi; sebuah imperium yang amat luas yang melingkupi beberapa Negara dan berjenis-jenis bangsa manusia.
                   Masuknya Islam kewilayah Mesir--yang termasuk wilayah Afrika Utara--terjadi dalam beberapa tahapan dan dibawah kepemimpinan yang berbeda pula. Untuk memudahkan kita dalam memahaminya, maka tidak ada salahnya kita klasifikasikan dalam beberapa dekade kepemimpinan, diantaranya :     
Pertama, pada masa kekhalifahan Umar ibn al-Khathab. Pada tahun 40 M ‘Amr ibn al-Ash berhasil memasuki Mesir, setelah sebelumnya mendapat ijin bersyarat dar khalifah ‘Umar untuk menaklukkan daerah itu.[3]           
Kedua, pada masa kekhalifahan Utsman ibn Affan. Pada masa ini penaklukan Islam sudah meluas sampai ke Barqah dan Tripoli. Penaklukan atas kedua kota itu dimaksudkan untuk menjaga keamanan daerah Mesir. Penaklukan ini tidak bertahan lama, karena gubernur-gubernur Romawi menduduki kembali wilayah-wilayah yang telah ditinggalkan itu.           
Ketiga, pada masa Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, khalifah pertama daulah Bani Umayyah. Yang dipimpin oleh ‘Uqbah ibn Nafi’ al-Fihri (W. 683 M), yang telah menetap di Barqah sejak daerah itu ditaklukkan. Usaha ini berhasil karena kegigihan dan didukung oleh penduduk asli yang telah miminta pertolangan kaum muslimin atas kekejaman imperium Romawi.      
Keempat, pada masa kepemimpinan  ‘Uqbah. Akan tetapi pada tahun 683 M orang-orang Islam di Afrika Utara mengalami kemunduran yang hebat, karena pemberontakan orang Barbar dibawah kepemimpinan Kusailah (orang barbar). Sejak saat itu orang-orang Islam harus berhadapan dengan bangsa Romawi sekaligus pemberontakan suku Barbar.       
Kelima, pada masa Abdul Malik  ibn Marwan (685-705 M). Namun demikian proses islamisasi belumlah berjalan mulus dikarenakan pemberontakan silih berganti.
Keenam, pada masa kepemimpinan Musa ibn Nusair tahun 708 M pada masa pemerintahan al- Walid ibn Abdul Malik (86-96 H/705-715 M).Yang berhasil mematahkan sekaligus mengantisipasi timbulnya pemberontakan lagi, dengan menerapkan kebijakan “perujukan” yaitu menempatkan orang-orang Barbar kedalam pemerintan Islam. Kebijakan inilah yang medorong terjadinya pembauran antara Arab-Barbar, ditambah lagi dengan mudahnya penyebaran—mudah diterima—paham kaum Khawarij.  
                   Kemunculan tokoh Musa ibn Nushair sebagai ´penakluk yang sesungguhnya” (the true conqueror) atas Afrika Utara bukanlah akhir dari dari segala huru-harayang terjadi di Afrika Utara. Sebab masih banyak episode pergolakan yang terjadi di daerah itu, bahkan hingga masa pemerintahan Daulah Bani Abbas. Hanya saja perubahan sosial dan politik sejak Musa memegang kendali pemerintahan menjadi modal yang sangat besar bagi pembangunan fondasi peradaban Isalm di Afrika utara, khususnya berkaitan dengan kebijakan islamisasinya. Disinilah peniting dan pengaruh dua unsur-unsur pembentuk peradaban/kebudayaan yaitu, The Man of The Pen dan The Man of The Sword, seperti telah kita bahas di atas.
2)        Kairo  
Kota Kairo dibangun pada tanggal 17 Sya’ban 358 H/969 M oleh panglima perang dinasti Fathimiah yang beraliran Syi’ah, Jawhar al-Siqili, atas perintah Khalifah Fathimiyah, al-Mu’izz Lidinillah (953-975), sebagai ibu kota kerajaan dinasti tersebut. Bentuk kota ini hampir merupakan segi empat. Di sekelilingnya dibangun pagar tembok besar dan tinggi, yang sampai sekarang masih ditemui peninggalannya. Pagar tembok ini memanjang dari Masjid ibn Thulun sampai ke Qal’at al-Jabal, memanjang dari Jabal al-Muqattam sampai ke tepi sungai Nil. Daerah-daerah yang dilalui oleh dinding ini sekarang disebut al-Husainiyah, Bab al-Luk, Syibra, dan Ahya Bulaq[4].     
3)        Masa kejayaan Mesir Pra- Modern              
Kota yang terletak di tepi sungai Nil ini mengalami tiga kali masa kejayaan sebelum memasuki fase modern, pertama  masa dinasti Fathimiah, kedua pada masa dinasti Ayyubiyah, dan yang ketiga pada masa dinasti Mamluk 1259-1517.
           
·      Sejarah Peradaban Islam di  Mesir Era-Modern           
        
Berbicara tentang sejarah peradaban dan kebudayaan Mesir pada Era Modern memang selalu menarik perhatian dan minat orang banyak, karena kota ini merupakan simbol peradaban yang ada di dunia dengan berbagai fase dan keragamannya. Namun untuk memulai fase peradaban Islam di Mesir pada Era Modern kita akan mengalami kesulitan untuk menentukan batas permulaan dan akhir dari pembahasan. Ada yang mengatakan Mesir memulai era-modern pada masa Muhammad Ali Pasha (w. 1848) dan cucunya Ismail Pasha (1863-1879) Sejak itu, tidak sedikit putra-putra terbaik Sungai Nil dikirim ke Eropa, tetapi alasan tersebut juga telah dilaksanakan pada masa Muhammad Ali. Namun demikian,  disni kita akan mengetahui fase-fase yang dilalui Mesir pasca dinasti Fathimiyah, Ayyubiyah, Mamluk, dan akhir kekuasaan Ottoman. Akan tetapi sebagian besar berpendapat bahwa masa modern di mulai pada tahun 1800 hingga sekarang.  

1)      Mesir Pada Permulaan Tahun 1800 hingga sekarang           
      Pada akhir abad ke delapan belas lapangan politik mesir ditandai dengan kemunculan dua orang tokoh yaitu, Ali Bey al-Kabir yang mewakili Mamluk dan Abu al-Dhab (1772-1775) yang mewakili Ottoman, selanjutnya diteruskan oleh Ibrahim Bey yang ditandai dengan pergolakan yang hebat dalam mendapatkan kekuasaan diantara orang-orang Mamluk. Namun demikian pemerintahan tetap berlanjut hingga Mesir diserbu oleh Bonaparte pada bulan juli 1798 M.          
      Ekspedisi Perancis ke Mesir (1798-1801) merupakan serangkaian rencana lama untuk menghubungkan laut Merah dan Laut Tengah demi kepentingan ekonomi dan politik, sejak masa Louis XIV.[5] Namun baru tercapai pada tahun 1798 atas jasa ekpedisi yang dipimpin oleh Bonaparte. Berbagai usaha telah dilakukan olehnya dalam mendapatkan simpati pribumi,[6] tetapi tetap gagal karena mereka dipandang kafir oleh pribumi. Bahkan mereka terus mendapatkan perlawanan dari berbagai pihak, termasuk juga perlawanan dari Inggris yang disebabkan kepentingan untuk menjaga status quo kawasannya. Jadi, masa ekspedisi yang bertahan selama 3 tahun 3 bulan ini mendapatkan perlawan dari orang-orang Mesir yang dibantu oleh Turki, Mamluk, dan juga Inggris yang memaksa Prancis untuk mengangkat kakinya dari mesir. Namun Semikian, ekspedisi ini telah memberi pengaruh yang begitu besar baik itu positif maupun negatif. Pengaruh positif dapat dirasakan dengan timbulnya semangat nasional di Mesir, sedangkan pengaruh negatifnya adalah “memperlihatkan ketidakseimbangan sistem militer dan administrasi Ottoman yang merupakan pendorong Negara-negara kuat Eropa untuk menguasai Negara-negara di Timur dekat”.       
      Pada tahun 1801-1805 Mesir bebas dari pengaruh luar (Eropa) namun pergolakan antara Mamluk dan Ottoman terus berlanjut (bahkan Inggris tidak mampu menyatukan keduanya). Selanjutnya adalah masa kekuasaan Muhammad Ali—berserta cucunya (monarchi)—yang memiliki kesadaran untuk mereorganisasi pemerintahan, pendidikan dan angkatan perang militer yang modern. Karena, ia berpendapat bahwa keberhasilannya dalam mengkonsolidasi pemerintahan tidak bergantung pada kepercayaan rakyat, bantuan dari Sultan ataupun kejasama dengan Mamluk.          
      Sejak pembukaan terusan Suez pada tahun 1869 M Inggris ingin menguasai Mesir, menyadari bahwa jalur ini sudah menjadi jalur terdekat menuju ke negara besarnya di Timur. Dan Inggris tidak rela untuk membiarkan Mesir jatuh  ke tangan negara besar Eropa yang lain. Hal ini berjalan mulus dengan ditandatanganinya perjajian Entente Corsiale (perjanjian lunak) antara Inggris dan Prancis yang menguntungkan kedua belah pihak, namun lain halnya dengan kenyataan yang diterima Mesir khususnya—dijajah Inggris—dan kawasan Afrika pada umumnya.            
Tumbuhnya semangat Nasionalisme di Mesir  
      Benih-benih nasionalisme telah muncul semenjak Mesir berada di bawah kekuasaan Ottoman, kemunculan ini di dorong oleh penderitaan yang masyarakat rasakan, hingga akhirnya mereka menyadari dan menyatakan baik rasa nasional mereka maupun dendam terhadap negara-negara  besar Eropa yang kemudian menguasai negara-negara mereka.      Selain itu, kebangkitan semanagat nasionalisme juga didukung oleh berbagai faktor , diantaranya :
               i.  Pengaruh Revolusi Prancis, ini semua semakin dirasakan dengan didirikannya pabrik kertas di Cairo oleh Napoleon.
             ii.  Kebangkitan kebudayaan Arab
           iii.  Renaissaince bangsa Mesir, ditandai dengan kemajuan sastra pada masa pemerintahan Ismail (1863-1879) yang didukung oleh perkembangan sekolah-sekolah dan keinginan untuk menjadikan Mesir sebagai bagian dari Eropa. Namun keinginan ini tidak berjalan begitu saja karena banyak yang menentang diantaranya “Jamaluddin al-Afghani” yang menyuarakan perlawanan kepada kekuatan asing dan pemerintahan Ismail dalam mempertahankan hak-hak bangsa Mesir.
           iv.  Kemunculan syair-syair yang bernuasa nasionalisme, dll.       

Kemerdekaan Mesir          
        
Akhir Perang Dunia Pertama telah mendatangkan revival semangat nasionalistik di Mesir yang mencapai titik kulminasi dalam sebuah revolusi tahun 1919. Revolusi ini bertujuan untuk mendapatkan kemerdekaan Mesir dan pembentukan lembaga konstitusional pemerintah. Akhirnya melalui Deklarasi tanggal 28 Februari inggris memberi kemerdekaan kepada Mesir dan setelah itu dperboleh memasuki Liga Bangsa-Bangsa.   
         Namun di sana masih terdapat empat buah tuntutan syarat tak terbatas yang menjadi penghalang bagi kemajuan negara. Diantaranya :  Sudan, tentara dan para ahli teknik Inggris di zona terusan suez, dan konsensi-konsensi asing di Mesir. Dalam rangka menyelesaikan permasalah tersebut diadakanlah negoisasi-negoisasi Anglo—Mesir sebagai tindak lanjut dari konstitusi baru tahun 1924 yang tidak memuaskan, adapun tujuan dari negaoisasi ini adalah untuk menyelesaikan permasalahan Sudan dan mendesak penarikan tentara-tentara Inggris dari Zona Suez. Akan tetapi usaha ini hingga berakhinya negoisasi tidak membuahkan hasil yang memuaskan sama seperti usaha-usaha sebelumnya, malahan pada bulan Oktober 1951 terjadilah permusuhan dalam bentuk militer. Pada titik ini kudeta militer pada bulan Juli 1952 merupakan manifestasi kesadaran nasional.    
         Pada era Modern, dapat kita simpulkan bahwa Mesir banyak mengalami gejolak dalam rangkan mendapatkan kebebasan/kemerdekaan. Diantaranya :     
1922 inggris menyatakan akhir kekuasaannya atas Mesir dan menyetujui Ahmad Fuad menjadi Raja Mesir.              
1923 keluarnya konstitusi Mesir, yang mempunyai tiga kekuasaan : Pertama, kekuasaan eksekutif oleh raja dan menteri-menteri; kedua, kekuasaan legislative, oleh parlemen; dan ketiga, kekuasaan kehakiman di bawah undang-undang.       
1952 Mesir  menjadi Republik; 1958, Mesir dan Syiria menjadi Republik Arab Persatuan; 1961, Mesir; kembali bersiri sendiri, sebagai Republik Mesir.       [7]
         Demikianlah pembahasan tentang sejarah perjalanan Mesir hingga mencapai kemerdekaan. Pembahasan akan dibatasi hingga periode ini saja, walaupun mesir masih banyak mengalami gejolak dan perkembangan lainnya. Point penting yang harus kita garis bawahi adalah tercapainya kemerdekaan Mesir sebagai negara yang berdaulat, berdiri sendiri dan terlepas dari intervensi asing.      

2) Hasil-hasil peradaban                
a)  masa Muhammad Ali 
1) Bidang militer: Pembentukan pasukan perang laut, Mendirikan sekolah militer, pengiriman pemuda de Itali untuk mempelajari kemiliteran.. 2) Bidang sosial masyarakat: Mendirikan sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit, perpindahan orang-orang asing ke Mesir. 3) Bidang Ekonomi: Kebijaksanaan ekonomi berdasarkan atas kemajuan revolusi industri, pengolahan kapas pertama di Mesir, modal (capital) asing masuk Mesir. 4) Bidang teknologi/pendidikan: Mengirimkan sebuah misi ke Inggris untuk mempelajari makanika, gerakan revivalisme dalam ilmu pengtahuan dan sastra (leteratur). 5) Bidang politik dan ketatanegaraan: Berkembangnya interaksi antara Mesir dan Eropa, mempermudah komunikasi antara Barat-Timur dengan membuka kembali jalan melalui daratan selama abad 19, aaaaaa Diterapkannya system Monarch.
b) Terusan Suez pada masa penjajahan (namun telah di mulai sejak dulu)
c)  Pra dan masa kemerdekaan/Mesir modern    
Perkembangan perhatian pendidikan kaum wanita, aktivitas-aktivitas sosial penganut perjuangan kaum wanita, pusat-pusat sosisal, undang-undang reformasi tanah, eksploitasi sumber-sumber alam, partisipasi dalam organisasi internasional dan dewan nasional (begitu juga kaum wanitanya). 
d) dewasa ini      
Dalam perundang-undangan kontemporer   
(1) UU. Hukum Pidana (2) UU. Perdata (3) UU. Hukum Acara Perdata dan Dagang (4) UU. Acara Pidana (5) UU. Hukum Syar’I lainnya.         
            Selain Undang-undang tersebut di atas di Mesir dikodifisir pula hukum-hukum sebagai berikut : (a) UU. Mawaris tahun 1934 (b)UU. Tentang wakaf, tahun 1946, tahun 1852, tahun 1960 (c) UU. Tentang wasiat, tahun 1946.    
Perpustakaan Iskandariah, Ufuk Baru Peradaban Mesir     
Gedung ini terdiri dari 3 bangunan utama :   
Pertama, ruang konferensi, terletak di sebelah gedung perpustakaan utama, yang dirancang sejak tahun 1991. Ruang konferensi ini terdiri dari 3 aula. Aula utama berkapasitas 1700 tempat duduk, seluas 5 ribu meter persegi. Di sebelahnya terdapat dua aula yang lebih kecil, masing-masing memuat 300 dan 400 orang.           
Kedua, planetarium. Bangunan berbentuk bola ini terletak di depan gedung perpustakaan, menempati posisi paling dekat ke jalan raya. Bangunan bundar ini berdiameter 18 meter, dalam posisi mengangkang di atas tanah.
Di bawah planetarium ini terdapat sebuah musium kecil, yaitu musium Sejarah Ilmu Pengetahuan (Mathaf tarikh al ‘ulum).         
Ketiga, gedung perpustakaan. Sang arsitek nampaknya sangat memahami bahwa gedung perpustakaan ini, akan menjadi simbol kebesaran peradaban Mesir Kuno di era modern ini. Gedung utama perpustakaan berbentuk setengah bulat, persis silinder, menghadap ke laut tengah. Bentuk ini menandakan bola matahari yang sedang terbit di ufuk timur. Konon, bentuk seperti ini dianggap suci oleh para pembesar Mesir Kuno.           
            Pada saat diresmikan, jumlah buku yang tersimpan dalam perpustakaan adalah 250 ribu buah. “Beberapa tahun ke depan, kami menargetkan jumlah hingga 4 juta buah”, kata Dr. Ismail Seradjuddin. Daya tampung perputakaan ini adalah 8 juta buah buku. Dari jumlah itu, terdapat sekitar 120 ribu buku-buku klasik, yang termasuk kategori sangat langka. Jumlah manuskrip-manuskrip kuno yang langka adalah 50 ribu buah, dan juga 50 ribu peta.  
Dalam bidang sosial kemasyarakatan           
           
ISLAM di Mesir berwajah Suni, berdarah Syiah, berhati Koptik, dan bertulang peradaban Firaun”,  kata tokoh terkemuka Kristen Koptik, Dr Milad Hana, dalam sebuah bukunya berjudul Qabûlul Âkhâr (menyongsong yang lain). Pernyataan pemikir asal Mesir di atas sedikit banyak menggambarkan wujud dan perjalanan pluralisme di Negeri Piramid ini. Hal ini dapat menjelaskan bahwa masyarakat Mesir dewasa ini merupakan masyarakat yang beraneka ragam, majmuk, dan unik.    
           
3.    Kesimpulan
         
Pakta sejarah di atas telah membuktikan bahwa Imperium Islam telah berhasil membentangkan pengaruhnya dan meninggalakan jejak peradaban yang gilang gemilang.
            Maka pemahaman akan Islam yang pincang dengan memandangnya sebatas “keberhasilan Invansi” hanya pernyataan yang mengada-ngada dan sebuah kebohogan besar yang mengatasnamakan kebenaran, karena persepsi itu telah terbantahkan dengan adanya sumbangan peradaban Islam yang begitu besar bagi umat manusia. Dan perlu kita segarkan kembali ingatan kita, bahwa peradaban/kebudayaan tidak akan terwujud hanya dengan invansi (the of the sword) saja. Akan tetapi, peradaban/kebudayaan itu akan terwujud dengan adanya penyelarasan (sinkronisasi) antara kedua unsur dominan, yaitu : Man of The Pen dan The Man of The Sword. 

Daftar Pustaka

 

·                                           Hassan, Hassan Ibrahim, 1989, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Kota Kembang.

·                                           Tim Penulis, 2004, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta : LESFI.

·                                           YATIM, Badri, Dr. Ma, 2006, Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II), Jakarta : Rajawali Perss/ PT Rajagarafindo Persada.

·                                           Rachmat Djatnika, dkk, Perkembangan Ilmu Fiqih di Dunia Islam, Bumi Aksara : 1992.

·                                           http://amgy.wordpress.com/2008/02/11/sejarah-peradaban-islam-pada-zaman-dinasti-abbasiyah-di-bagdad/s

·                                           http://joozuzuzu.blog.com/2282189/

·                                           http://www.eramuslim.com/berita/bc2/8214192116-dr.-hamid-fahmy-zarkasyi-ma-mphil-sejarah-islam-perlu-dipaparkan-dengan-jujur. htm

·                                           http://dedepermana.blogspot.com/2004/10/ssm-6-perpustakaan-budaya-2.htmlThur sday, October 14, 2004

·                                           http://www.freelists.org/archives/ppi/08-2005/msg00221.html

 




[1] Dr. Fahmi Amhar 26 April 2007

[2] Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA, M.Phil: Sejarah Islam Perlu Dipaparkan dengan Jujur


[3] Ijin bersyarat itu berupa pesan yang disampaikan khalifah Umar sebelum keberangkatannya. Kata Umar, “Berangkatlah, dan mudah-mudahan keberhasilan bersama Anda, tetapi seandainya Anda memperoleh sepucuk surat dari saya sebelum sampai ke Mesir, kembalilah.
[4] Tim Penulis, 2004, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta : LESFI.
[5] Ibid., hlm. 351.
[6] Pendirian “institute d’Egypt”, memilih 10 orang pribumi untuk membentuk sebuah dewan. Sejarah dan Kebudayaan Islam, hlm. 352.
[7] Rachmat Djatnika, dkk, Perkembangan Ilmu Fiqih di Dunia Islam, Bumi Aksara : 1992, hlm. 29.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar